All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Potensi Seorang Zidane


Real Madrid berhasil menginjakkan kakinya di final untuk dua musim beruntun. Atletico, sekali lagi, menjadi lawan yang berhasil disingkirkan oleh Los Blancos. Tanggal 3 Juni nanti, mereka akan mencoba mencatatkan sejarah baru sebagai tim pertama di era Liga Champions yang berhasil mempertahankan gelar. Selain gemilangnya penampilan para pemain, ada satu sosok yang tak bisa dipisahkan dalam perjalanan Los Blancos musim ini. Ya, ia adalah sang entrenador, Zinedine Zidane.

Zidane sendiri ditunjuk sebagai manajer El Real pada pertengahan musim lalu setelah rentetan hasil mengecewakan di bawah asuhan Rafa Benitez. Ekspektasi besar pun tentu langsung muncul dengan harapan laju buruk Madrid bersama Benitez tak terulang. Namun sayang, laga pertamanya sebagai manajer ditandai dengan kekalahan 0-1 atas rival sekota, Atletico Madrid di kandang sendiri. Setelah laga itu, dampak besar langsung ditunjukkan oleh Zidane. Ia berhasil menyapu bersih semua laga tersisa di ajang La Liga, termasuk kemenangan 2-1 atas Barca di Camp Nou. Sayangnya, jarak yang sudah amat lebar dengan Barca sebelum kehadiran Zizou membuat El Real kembali harus gigit jari di ajang La Liga.

Di ajang Liga Champions, kiprahnya justru berakhir manis meski berstatus sebagai manajer debutan. AS Roma berhasil disingkirkan di babak 16 besar. Di perempat final, comeback gemilang usai tertinggal dua gol di leg pertama mengantarkan mereka ke semifinal. Di final, Atletico kembali berhasil ditaklukan usai memenangi drama adu penalti 5-4 di San Siro. Trofi juara Eropa pun kembali direngkuh Madrid usai sempat direbut oleh Barcelona semusim sebelumnya. Zidane pun mengakhiri musim itu dengan trofi jawara benua biru. Sebuah musim yang gemilang untuk seorang manajer debutan.

Musim ini, Real Madrid yang masih terkena sanksi transfer dari FIFA harus berputar otak terkait badai cedera yang melanda para punggawa Los Blancos, termasuk Cristiano Ronaldo. Pemain akademi pun menjadi solusi terbaik untuk permasalahan tersebut. Di laga Piala Super Eropa, Madrid yang minus lima pemain inti berhasil keluar sebagai juara usai mengalahkan Sevilla 3-2. Di laga itu pula nama Marco Asensio mencuat ke permukaan. Ia mencetak satu gol di laga itu. Laga eropa pertamanya bersama Madrid. Di ajang - ajang lainnya juga Madrid kerap menggunakan para pemain mudanya untuk tampil di laga kompetitif.

Di musim ini juga kita melihat sebuah situasi yang terbilang baru di Madrid. Rotasi pemain yang jarang dilakukan di musim - musim sebelumnya mulai diterapkan oleh Zidane. Para pemain bintang pun terlihat tak keberatan menjadi 'korban' rotasi Zidane. Dan keyataannya para pemain cadangan Los Blancos tak kalah ciamik dengan para pemain inti. Sebut saja Morata, Isco, James Rodriguez, dan Lucas Vazquez. Belum lagi para pemain muda seperti Marco Asensio dan Mariano Diaz. Alhasil, para pemain Los Blancos pun tampak selalu fit di setiap pertandingannya. Jadwal yang padat memang menjadi momok bagi setiap tim. Resiko cedera menjadi faktor utamanya. Dan kebijakan rotasi Zidane menjadi solusi tepat untuk Madrid.

Musim masih menyisakan empat laga lagi untuk Madrid. Jalan Zidane untuk meraih titel La Liga pertamanya pun terbuka lebar asalkan mampu menyapu bersih tiga laga sisa. Sementara satu laga sisanya jelas adalah final Liga Champions, untuk kedua kalinya secara beruntun bagi Zidane sejak menangani Sergio Ramos dkk. Dan pencapaian tersebut diraihnya hanya dalam 1,5 tahun masa kepelatihannya di Madrid. Jika berhasil meraih kedua titel tersebut, bukan tak mungkin jika Madrid akan mempertahankannya dalam waktu lama, sesuatu yang tak terjadi pada Ancelotti dan bahkan Vicente Del Bosque sekalipun. Ini hanyalah sebuah awal dari seorang Zidane.

Ya, Zidane sudah menunjukkan kelasnya sebagai pelatih kendati usia karirnya masih seumur jagung. Adaptasi taktik, mampu menahan ego para pemain bintangnya hingga rotasi yang sangat menguntungkan tim menjadi nilai plus dari seorang Zidane. Jalan kepelatihannya masih amat panjang ( jika ia mau ). Bukan tak mungkin jika suatu saat ia bisa menjadi seorang pelatih yang melegenda.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment