All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Game Over Dari Chelsea Untuk Premier League


Selesai sudah kampanye untuk memperebutkan trofi Premier League musim ini. Dan seperti yang kita tahu, Chelsea berhasil mengamankan gelarnya usai menundukkan West Bromwich Albion di The Hawtorns dengan skor 1-0. Michy Batshuayi tampil sebagai pahlawan dengan gol penentunya di menit ke 83. Gol yang juga memastikan timnya meraih juara untuk kedua kalinya dalam tiga musim terakhir. Setelah terpuruk di musim lalu plus memecat Jose Mourinho, tampilnya Chelsea sebagai juara memang cukup mengejutkan. Mereka tak lebih diunggulkan dari duo Manchester plus Liverpool dan Arsenal. Tak juga lebih diunggulkan dari Tottenham Hotspur. Namun, kenyataan berbicara lain dimana Chelsea menunjukkan konsistensi ala tim juara sementara para rival terpelset.

Di awal musim, Chelsea berhasil meraih tiga kemenangan beruntun melawan West Ham, Watford dan Burnley. Namun memasuki September, tantangan mulai dihadapi The Blues. Setelah tertahan melawan Swansea, mereka menelan dua kekalahan beruntun yakni melawan Liverpool dan Arsenal. Dan tanpa diduga, kekalahan melawan Arsenal itulah yang seakan memberikan tamparan keras bagi mereka untuk melakukan perubahan. Formasi 4-1-4-1 yang digunakan sejak awal musim diubah menjadi skema 3-4-3 setelah kekalahan di Emirates. Setelah memakai skema tiga bek, pertahanan Chelsea menjadi jauh lebih kuat. Tak hanya kuat di belakang, namun juga tajam di depan.

Conte juga berhasil memaksimalkan kedua wingback-nya, Marcos Alonso di kiri dan Victor Moses di kanan. Kedua pemain yang sempat diragukan tersebut nyatanya menjadi kunci dari keberhasilan skema tiga bek ala Conte. Selain itu, Conte juga berhasil membawa Pedro, Diego Costa, dan Eden Hazard kembali bersinar setelah tampil mengecewakan musim lalu. Kemenangan demi kemenangan terus diraih Chelsea setelah beralih ke skema tiga bek. Setelah melewati 15 kemenangan beruntun, rentetan tersebut akhirnya terhenti di tangan Spurs usai takluk 1-2 di White Hart Lane. Tapi, performa mereka masih belum mengalami penurunan usai pertandingan tersebut.

Guncangan mulai dialami oleh Eden Hazard dkk di partai melawan Crystal Palace. Mereka harus takluk 1-2 di kandang sendiri yang dilanjutkan oleh kekalahan tandang melawan Manchester United. Selisih yang tadi melebar hingga empat poin akhirnya terpangkas menjadi empat poin. Konsistensi Spurs jelas menjadi ancaman nyata untuk anak asuh Antonio Conte. Namun, perjuangan Spurs akhirnya harus berakhir kala mereka takluk 1-0 oleh West Ham awal Mei lalu. Chelsea yang hanya butuh dua kemenangan akhirnya berhasil merealisasikannya dengan menaklukkan Middlesbrough dan WBA. Gelar juara pun akhirnya kembali ke Stamford Bridge usai semusim bermukim di Leicester.


Terlepas dari berbagai kritik yang menghampiri mereka, Chelsea memang layak untuk menjadi juara. Konsistensi adalah hal yang mereka tampilkan musim ini, sesuatu yang tidak dimiliki oleh para rivalnya. Musim perdana Conte pun berbuah manis dengan raihan gelar Liga Inggris, trofi liga terakhir untuk sang kapten John Terry yang di akhir musim akan hengkang. Mereka bisa menyempurnakannya menjadi double winner andai mampu menaklukan Arsenal di laga final FA Cup akhir Mei nanti.

Tantangan sesungguhnya akan mereka hadapi musim depan. Tampil di Liga Champions plus taktik yang sudah mulai terbaca oleh lawan hanyalah beberapa diantaranya. Conte sudah harus memikirkan taktik alternatif dan juga mengincar beberapa pemain untuk memperdalam skuatnya. Untuk sekarang, Conte dan anak asuhnya bisa merayakan buah kerja keras mereka sepanjang musim berupa raihan gelar Premier League.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment