Ajax Amsterdam : Membangun Kembali Kejayaan Lewat Para Youngster
Ada yang tak menyangka jika Ajax Amsterdam berhasil menembus final pertamanya di kompetisi eropa dalam 22 musim. Ya, sudah sangat lama para pecinta sepakbola tak menyaksikan raksasa asal Belanda tersebut tampil di partai puncak kompetisi eropa. Terakhir kali, mereka tampil sebagai juara di ajang Liga Champions 1995, mengalahkan AC Milan 1-0. Tak heran jika keberhasilan Ajax menembus final kompetisi eropa musim ini ( meskipun 'hanya' Europa League ) disambut penuh sukacita, terutama para pendukung Ajax.
Meski gagal menjuarai Eredivisie, tetap saja kelolosan mereka ke final Europa League menjadi catatan tersendiri. Satu hal menarik dari perjalanan Ajax musim ini adalah para pemain mudanya yang tampil begitu luar biasa. Ya, sekali lagi Ajax menunjukkan kualitasnya sebagai tim penghasil pemain muda terbaik di Eropa bahkan dunia. Sebut saja nama Justin Kluivert, Matthijs De Ligt, Abdelhak Nouri, dan tentu saja sang top skorer Ajax musim ini, Kasper Dolberg.
Patut diingat jika para pemain yang disebutkan diatas masih berusia di bawah 22 tahun. Dari deretan nama di atas, jelas nama Dolberg paling mencuri perhatian. Sudah ada 23 gol dan 8 assist yang berhasil ia catatkan untuk Ajax musim ini. Sebuah catatan fenomenal untuk pemain yang bahkan baru berusia 20 tahun. Nama selanjutnya adalah palang pintu muda Ajax, Matthijs De Ligt. Pemain bertahan bertinggi 188 cm tersebut berhasil menunjukkan penampilan yang tak kalah ciamik.
Jika Dolberg ditugaskan untuk mencetak gol, maka tugasnya adalah mencegah gawangnya dari kebobolan. Ia sudah mencatatkan 18 penampilan untuk Ajax, termasuk di laga krusial melawan Schalke dan Lyon di ajang Europa League. Umurnya pun masih muda, 17 tahun !!. Masih sangat muda namun sudah menunjukkan penampilan matang layaknya pemain senior. Satu nama terakhir adalah Justin Kluivert. Dari namanya saja, sudah terbayang seorang alumni Ajax di medio 90-an. Memang pemain yang satu ini adalah anak dari Patrick Kluivert, legenda Ajax dan sang pencetak gol kemenangan Ajax di final UCL 1995.
Berbeda dengan ayahnya, sang anak menempati posisi gelandang serang alih - alih srtiker. Meski begitu, catatannya tidaklah buruk. Ada tiga gol dan tujuh assist dari 22 penampilannya di seluruh kompetisi. Keahliannya dalam dribbling dan kegemarannya melakukan cut inside menjadi senjatanya dalam mengacaukan pertahanan lawan. Usianya memang baru 18 tahun, tapi jalan karir sepakbolanya masih amat panjang. Bukan tak mungkin jika di masa depan ia menjelma menjadi striker haus gol layaknya sang ayah dan memberikan sederet gelar untuk Ajax.
Nama - nama di atas hanyalah beberapa. Selain nama - nama yang sudah disebutkan, masih ada para remaja potensial milik Ajax antara lain : Andre Onana, Donny Van De Beek, Frenkie De Jong, Matteo Cassiera, David Neres, Jairo Riedewald, dan Kenny Tete. Wow, banyak sekali bukan. Dikombinasikan dengan para pemain senior seperti Davy Klaassen, Joel Veltman dan Lasse Schone, Ajax mulai membangun kembali kejayaan yang dulu pernah mereka raih. Sudah sejak lama Ajax dikenal sebagai pengahasil pemain berkualitas seperti Rafael Van Der Vaart, Klaas Jan Huntelaar, Wesley Sneijder dan Mark Van Bommel.
Dengan deretan para pemain muda tersebut, Ajax kini mulai merintis kembali jalan kesuksesan mereka setelah sekian lama. Sang raksasa tertidur kini perlahan mulai 'bangun' kembali. Para pemain muda mereka dengan potensi yang luar biasa sudah menunjukkan penampilan jempolan di musim ini. Jika mampu membina para pemain mudanya dengan baik, bukan tak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, sepakbola eropa akan kembali kedatanangan kekuatan baru tapi lama, dalam sebuah tim bernama Ajax Amsterdam.


0 komentar:
Post a Comment