Derby Della Madonina Yang Hanya Menyisakan Gengsi
Akhir pekan ini Serie A akan diramaikan oleh sebuah laga akbar bertajuk Derby Della Madonina. Keduanya kini tengah bersaing ketat di papan klasemen demi memperebutkan tiket kompetisi eropa musim depan. Ada jarak tiga poin antara kedua tim di peringkat enam dan tujuh klasemen. Kemenangan tentunya menjadi harga mati bagi kedua tim agar bisa lolos ke kompetisi eropa musim depan. Namun, Derby Milan kini sudah kehilangan pamornya sebagai partai berlabel Big Match.
Dalam beberapa musim kebelakang, duo klub asal Milan ini begitu tertatih bahkan untuk 'sekedar' lolos ke kompetisi eropa. Mereka pun hanya bisa menjadi penonton dari dominasi Juventus selama lima musim kebelakang ( enam jika musim ini juara ). Praktis, hanya AS Roma dan Napoli yang kini menjadi pesaing rutin Juve dalam beberapa musim terakhir. Tak ada duo Milan dalam persaingan papan atas Serie A. Mereka tergusur oleh dua klub yang disebutkan di atas. Bahkan kini ada Lazio dan juga klub kejutan musim ini Atalanta yang kini berhasil mengangkangi duo Milan.
Krisis keuangan yang melanda duo Milan diyakini menjadi faktor kenapa duo Milan mengalami keterpurukan. Inter Milan misalnya. Sejak menjuarai Serie A yang disertai treble winners pada 2010, prestasi mereka lambat laun menurun. Terhitung dimulai sejak musim 2012/2013 dimana Inter sudah absen dari Liga Champions Eropa. Satu per satu bintang pun angkat kaki dari Giuseppe Meazza seperti Wesley Sneijder, Diego Milito, dan juga Samuel Eto'o. Absennya Inter dari Liga Champions turut berpengaruh pada sektor keuangan mereka. Moratti pun sempat menjual mayoritas sahamnya kepada pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir. Tak kunjung berprestasi, Thohir pun kembali melepas sahamnya kepada Suning Group, perusahaan elektonik asal China.
Namun hingga kini Inter belum juga menemukan bentuk permainan terbaiknya dan hanya mampu berkutat di lima besar klasemen Serie A. Sama halnya dengan saudara sekotanya, AC Milan. Setelah pengakusisian Milan oleh pengusaha Thailand mengalami kebuntuan, akhirnya Silvio Berlusconi resmi mengakhiri rezimnya dengan menjual mayortitas sahamnya kepada pengusaha asal Tiongkok ( juga ) Li Yonghong dengan nilai mencapai 10,41 Triliun rupiah. krisis finansial menjadi batu sandungan utama bagi Rossoneri. Bahkan pada musim 2014/2015, klub yang bermarkas di San Siro tersebut memiliki pemain pinjaman sebanyak 19 pemain. Label AC Mi'Loan' pun sempat melekat pada mereka di musim tersebut. Dan sama seperti saudara sekotanya, absennya mereka dari kompetisi eropa membuat mereka kini kesuitan untuk mendatangkan pemain bintang.
Turunnya pamor Derby Milan juga dipengaruhi oleh ketiadaanya deretan pemain kelas satu di kedua kubu. Di masa lalu, ada nama Ronaldo, Luis Figo, Zlatan Ibrahimovic sampai Diego Milito di kubu Inter. Pun begitu dengan AC Milan dimana ada Andriy Shevchenko, Rui Costa, Clarence Seedorf hingga Ricardo Kaka yang sempat menghiasi skuad Rossoneri. Tak ada juga sosok pemimpin sejati di kedua kubu seperti Javier Zanetti di pihak Inter dan juga Paolo Maldini di kubu Rossoneri. Hanya ada selembar tiket eropa yang kini mereka perebutkan. Tak ada gelar bergengsi yang dulu mereka pertaruhkan mati - matian dalam pertandingan Derby.
Dilepasnya mayoritas saham AC Milan dan Inter Milan kepada perusahaan asal China juga menunjukkan bahwa sepakbola Italia sudah mengalami kekalahan. Tak ada pemain bintang dan juga absennya mereka dari Liga Chamions dalam beberapa musim terakhir membuat Derby Della Madonina kini tak lebih dari sekedar partai untuk memperebutkan gengsi dan juga tentu saja tiket kompetisi eropa.


0 komentar:
Post a Comment