All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Totti, Satu - Satunya Pangeran Untuk Roma


Kabar mengejutkan datang dari tim serigala ibukota, AS Roma. Sang kapten sekaligus ikon klub tersebut, Francesco Totti akan mengakhiri karirnya sebagai pesepakbola pada akhir musim ini. Pensiunnya pemain berusia 40 tahun tersebut diumumkan oleh direktur olahraga baru Roma, Ramon Rodriguez Verdejo alias Monchi. Tak bisa dipungkiri memang jika pensiunnya Totti tak terlalu mengejutkan. Menit bermain dan fisik yang semakin terkuras membuatnya hanya menjadi pilihan kesekian untuk timnya. Sepakbola modern yang sangat mengandalkan kecepatan menjadi hambatan tersendiri bagi Totti.

Bahkan sebelum Luciano Spalletti menangani Roma, Rudi Garcia yang menjabat sebelumnya juga memberikan menit bermain yang amat sedikit untuk sang kapten. Bukan sebuah keputusan yang baik memang untuk menurunkan Totti di setiap pertandingannya. Jadwal yang setiap musimnya semakin padat tak sebanding dengan kemampuan fisik Totti yang sudah termakan oleh zaman. Terhitung, sudah 25 musim Totti membela panji AS Roma. Dedikasinya selama seperempat abad jelas bukanlah hal sepele. Loyalitas yang hanya dimiliki oleh segelintir pemain. Sebut saja Maldini untuk AC Milan, atau Ryan Giggs untuk Manchester United.

Berbeda dengan kedua pemain di atas yang bergelimang gelar bersama timnya, trofi yang dipersembahkan Totti untuk timnya bisa dihitung dengan jari. Scudetto pertama dan satu - satunya baru hadir di musim kesepuluhnya, tepatnya di musim 2000-2001. Sementara gelar lainnya adalah dua gelar Coppa Italia dan dua gelar Piala Super Italia. Sebuah ironi untuk pemain sekelas Totti yang hanya bisa memeberikan 'sedikit' gelar untuk timnya. Namun, setidaknya ia sudah meraih trofi yang diidamkan oleh seluruh pesepakbola. Tak lain adalah trofi Piala Dunia saat ia menjadi bagian dari timnas Italia assuhan Marcelo Lippi yang keluar sebagai juara di gelaran 2006 di Jerman.

Membela satu tim selama seperempat abad jelas menyimpan banyak momen indah yang ada didalamnya. Sebut saja gol flick nya ke gawang Inter pada 2005 yang dikenal dengan sebutan Cucchiaio.


Ada juga momen lain dimana dua golnya di tiga menit akhir berhasil memenangkan Roma di laga sengit melawan Torino. Sementara bersama timnas, gol panenkanya ke gawang Edwin Van Der Sar jelas menjadi momen tak terlupakan. Setelah menjuarai Piala Dunia 2006, Totti memutuskan pensiun dari timnas dengan alasan ingin fokus sepenuhnya ke klubnya, AS Roma.

Sudah banyak posisi bermain yang telah diperankan oleh Totti sebagai pesepakbola. Memulai karirnya sebagai seorang gelandang serang di era kepelatihan Carlo Mazzone, peran berbeda ia mainkan saat Zdenek Zeman mengambil alih tongkat kepelatihan. Ia diperankan sebagai winger dengan alasan kemampuan fisiknya yang mumpuni. Namun, gelar Scudetto yang ia raih justru hadir saat ia bermain sebagai playmaker. Di bawah asuhan Capello, ia bermain cemerlang. Dan gelar Italian Super Cup pun hadir di musim selanjutnya usai ia mencetak satu gol yang mengantarkan Roma menang 3-0 atas Fiorentina.

Setelah tiga musim bermain sebagai playmaker, datanglah Spalletti ( era pertama ) ia kembali menjalani peran lain yakni sebagai striker. Namun, Totti juga ditugaskan untuk turun ke tengah lapangan untuk menjemput bola. Role yang saat ini kita kenal dengan istilah false nine. Peran yang juga mengantarkan Totti keluar sebagai top skorer Serie A di musim 2007-2008. Setelahnya, permainan Totti lambat laun mulai menurun. Memasuki usia 30an, skillnya perlahan mulai memudar. Dan sekarang seperti yang lebih sering kita lihat, jika Totti hanya berperan sebagai supersub. Terlepas kemampuannya yang mulai menurun, kehadirannya masih sangat dibutuhkan oleh Roma. Tak lain karena jiwa kepimpinannya.

Di usia senjanya, Totti masih sempat menorehkan beberapa rekor. Antara lain adalah sebagai pencetak gol tertua di ajang Liga Champions di usia 38 tahun 59 hari saat timnya berimbang dengan CSKA Moscow. Dirinya juga berhasil mencetak gol ke 300 nya saat timnya berimbang 2-2 dengan Sassuolo musim lalu. Terakhir, Totti juga tercatat sebagai pemain tertua yang mencetak dua gol di ajang Serie A di usia 39 tahun 203 hari. Catatan di atas hanyalah beberapa dari sederet rekor yang berhasil ditorehkan oleh sang legenda hidup yang satu ini.

***

Meski belum mengonfirmasi secara langsung, besar kemungkinan jika Totti memang akan pensiun musim ini. Pensiunnya sang ikon Roma tersebut jelas menjadi kehilangan besar, khususnya bagi para Romanisti yang sudah begitu melekat dengan sosok Totti. Tak banyak memang gelar yang bisa diberikan Totti untuk Roma. Namun, loyalitasnya seakan lebih berharga dari pada segelintir trofi yang ia persembahkan. Masih ada beberapa laga menjelang berakhirnya Serie A. Meski kemungkinan mengakhiri musim tanpa gelar, toh Totti tetap akan bangga dengan apa yang ia capai. Karena ia tahu di masa mendatang belum tentu ada pemain lain dengan loyalitas seperti yang ia tunjukkan.

Mari berharap kita bisa melihat Totti kembali bermain di sisa musim ini. Satu hal yang pasti, laga terakhir di Olimpico musim ini melawan Genoa di akhir bulan jelas menjadi momen emosional. Para Romanisti akan dengan lantang menyeruarakan namanya. Nama dari sang gladiator sejati. Seorang pemain dengan loyalitas luar biasa. Dengan segala dedikasinya, sebutan Pangeran memang tak salah dialamatkan kepadanya. Dan mungkin, ialah satu - satunya Pangeran untuk Roma.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment