All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Introduce

Hay Guys....

Perkenalkan , nama saya Dimas Gumerang Ryandika. Saya lahir di Banyumas , 7 Oktober 1998. Sekarang saya adalah murid di SMK Negeri 1 Purwokerto. Saya masih duduk di kelas 10 jurusan Teknik Komputer Jaringan. Secara umur, seharusnya saya sudah lulus pada tahun ajaran kemarin, yakni tahun ajaran 2015/2016. Hal ini dikarenakan saya sempat berhenti sekolah selama tiga tahun dikarenakan sempat mengalami keterbatasan biaya, setelah saya lulus pada tahun 2013 di SMP 1 Undaan Kudus.Tidak mengherankan karena ayah saya, sejak tahun 2008, adalah single parent setelah ibu saya meninggal karena penyakit Anemia yang dideritanya.Setelah ibu saya meninggal, ayah saya memutuskan untuk pindah ke Kudus, karena tidak ada yang merawat saya di Jakarta, kota dimana saya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 sd, dan hidup sebagai keluarga penghuni kontrakkan selama kurang lebih 5 tahun lamanya

Setelah ibu saya meninggal, praktis hanya ayah saya yang menjadi tulang punggung keluarga. Setelah putus sekolah, saya sempat mengalami sedikit depresi. Bagaimana tidak, saya sendiri adalah lulusan terbaik kedua di SMP tempat saya bersekolah. Namun, semuanya terasa berbeda setelah ayah saya mengatakan bahwa beliau tidak bisa menyekolahkan saya dikarenakan keterbatasan biaya, dan secara tak sadar, saya menangis setelahnya. Perlahan seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit saya bisa melupakan kejadian itu. 7 Bulan setelah kejadian itu, saya mendapatkan tawaran pekerjaan dari seorang pemilik toko kayu yang kebetulan adalah tetangga satu kampung saya sendiri. Tanpa pikir panjang,saya pun memutuskan untuk menerimanya. Selama kurang lebih 1 tahun lamanya, saya bekerja di toko kayu tersebut, dengan upah yang bisa dibilang pas-pasan , yakni Rp. 25.000/hari. Memang sedikit, tapi terasa wajar mengingat ini adalah pertama kalinya saya bekerja.

Setelah satu tahun, ayah saya memutuskan untuk membangun rumah di Kudus, dengan menjual aset sebidang tanah yang dimilikinya di Purwokerto. Dan alhamdulillah , tanah tersebut laku hingga 50 juta rupiah. Ayah saya membangun rumah di sebidang tanah seluas 6x30 meter. Rumahnya sendiri berukuran 6x10 meter. Prosesnya sendiri cukup berat. Bagaimana tidak, meskipun berukuran kecil, tapi prosesnya memakan waktu hingga 3 bulan. Kenapa? karena hanya 2 orang yang mengerjakannya, tak lain dan tak bukan adalah ayah saya dan saya sendiri. Pekerjaan yang memberikan pelajaran untuk saya bagaimana kerasnya menjadi seorang pekerja proyek, seperti ayah saya.Tiga bulan berlalu dan akhirnya pembangunannya selesai.Tapi tak selesai dengan sempurna, mengingat pintu dan kusen jendela yang belum terpasang.

Tak lama setelah rumah saya selesai, datanglah tawaran dari paman saya untuk bekerja sebagai kenek di Semarang, dengan upah yg lumayan yakni Rp. 80.000/hari. Setelah mendiskusikannya dengan ayah saya, saya pun berangkat ke Semarang. Terasa aneh, karena ini adalah pertama kalinya saya merantau ke Luar Kota untuk bekerja. Dan sungguh tak diduga, pekerjaannya jauh lebih berat ketimbang saat saya membangun rumah saya sendiri dengan ayah saya. Mengaduk semen, mengangkat semen dan mengangkat adukan cor seakan sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Akhirnya, setelah mendapatkan bayaran pertama, yang pertama datang kepada saya adalah rasa SADAR. Sadar jika mencari nafkah tak semudah membalikkan telapak tangan dan harus lebih bersyukur terhadap apa yang kita miliki sekarang.

Pekerjaan saya di Semarang hanya berlangsung selama 4 bulan dikarenakan adanya selisih paham antara paman saya dan sang pemilik rumah. Akhirnya paman saya memutuskan untuk tak melanjutkan proyeknya. Hal ini menjadi bencana untuk saya karena saat itu hanya satu bulan menjelang Idul Fitri. Saya bingung jika nanti Idul Fitri, saya harus mencari uang dari mana. Namun, Allah selalu punya rencana terbaik untuk setiap hambanya dan selalu menolong hambanya dari kesulitan. Dan pertolongan itu datang di awal bulan Ramadhan, saat saya di telfon oleh paman saya yang ada di Purwokerto dan mendapatkan tawaran untuk melanjutkan sekolah SLTA di sana. Awalnya saya ragu dan bertanya pada diri saya sendiri : "Setelah vakum tiga tahun, apa saya masih bisa kompetitif". Namun dengan dorongan ayah dan para kerabat saya, akhirnya saya menerima tawaran paman saya untuk bersekolah di Purwokerto, tepatnya di SMK Negeri 1 Purwokerto. Jurusan yang saya ambil adalah Teknik Komputer Jaringan, atau biasa disingkat TKJ. Saya sendiri memilih jurusan TKJ, karena ketertarikan saya yang begitu besar terhadap bidang teknologi.

Awal sekolah terasa cukup berat untuk saya. Setelah absen 3 tahun, baru kali ini saya mengenal lagi pelajaran formal. Waktu yang cukup lama bukan?. Namun dengan adaptasi yang cukup cepat, juga dengan dibantu teman satu kelas saya membuat saya pada akhirnya terbiasa dengan suasana pendidikan yang sebelumnya sudah lama tak saya rasakan. Dengan usaha dan ketekunan, Alhamdulillah saya bisa masuk 5 besar di semester 1 kemarin. Tidak buruk untuk seseorang yang sudah vakum 3 tahun dari dunia pendidikan. Dan saat ini, saya sedang menjalani semester kedua saya sebagai seorang siswa, dan tentu saja berharap lebih baik lagi di semester ini, dengan target setidaknya masuk 3 besar. Hopely.....

Oke guys, itu tadi sekilas tentang profil singkat saya. Semoga bisa menginspirasi
Coming up : My First Post

See you............
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment