Rossi Dan Gelar Kesepuluh
Musim MotoGP 2017 akan dimulai akhir pekan ini di sirkuit Losail, Qatar. Para pembalap pun sudah menyiapkan ancang - ancang menyambut musim baru. Empat Rookie baru mewarnai musim baru nantinya. Namun, dari deretan pembalap yang berkompetisi musim ini, nama Valentino Rossi bisa jadi adalah pembalap yang masih penasaran. Rasa penasaran tersebut tak lain terkait jumlah gelarnya yang masih mentok di angka sembilan. Terakhir kali The Doctor menajadi kampiun adalah di musim 2009. Sejak itu, pencapaian terbaiknya hanyalah runner up di tiga musim terakhir.
Dari line up pembalap MotoGP musim ini, Rossi tentunya adalah pembalap tertua bahkan bisa dibilang veteran. Di saat para kompetitornya seperti Max Biaggi, Sete Gibernau, Loris Capirossi, Alex Barros hingga Casey Stoner sudah memutuskan gantung helm, dirinya lah satu - satunya pembalap dari generasi tersebut yang masih bertahan. Terhitung, musim 2017 nanti menjadi musim ke 22 nya di ajang MotoGP. Dengan sederet gelar dan prestasi, kehadirannya turut membuat MotoGP menjadi terkenal seantero dunia. Sembilan gelar juara , tujuh diantaranya di kelas primer sudah lebih dari cukup untuk menempatkannya diantara para legenda MotoGP.
Rossi kembali ke Yamaha pada 2013 setelah melewati dua musim yang begitu suram bersama Ducati. Tak ada satupun kemenangan yang bisa diraih oleh The Doctor. Pencapaian terbaiknya hanyalah finis kedua di race GP Prancis 2012. Alhasil, Rossi pun kembali ke Yamaha pada musim berikutnya setelah datangnya tawaran dari Yamaha. Publik tentu masih mengingat panasnya rivalitas antara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di periode 2008-2010. Sampai - sampai harus ada dinding pembatas diantara keduanya agar tak saling bertukar data. Namun, sekembalinya ke Yamaha, hubungan keduanya relatif normal tanpa adanya gesekan. Puncak persaingan keduanya tentu saja di musim 2015. Bagaimana tidak, siapa yang menjadi juara dunia di musim tersebut harus ditentukan di seri terakhir. Drama pun terjadi di tiga balapan terakhir. Dimulai dari GP Australia dimana Rossi menuduh Marquez membantu Lorenzo dalam usahanya meraih gelar. Puncaknya tentu adalah di seri Malaysia sepekan setelahnya. Rossi yang begitu kesal dengan Marquez yang disinyalir sengaja memperlambat motornya tak kuasa menahan emosinya. Keduanya pun bersenggolan yang menyebabkan Marquez tak bisa melanjutkan race sementara Rossi finis ketiga.
Drama tak berhenti sampai disitu. Di akhir race, race direction menjatuhkan hukuman berupa penalti tiga poin. The Doctor pun harus start di posisi buncit di race terakhir. Gelar juara yang sudah di depan mata pun melayang ke rekan setimnya Jorge Lorenzo setelah dirinya hanya mampu finis keempat sedangkan Lorenzo justru keluar sebagai juara. Di musim ini sudah tak ada lagi nama Lorenzo di Yamaha. Sebagai gantinya, datanglah pembalap muda penuh potensi Maverick Vinales. Sudah sepatutnya jika Rossi waspada terhadap rider yang satu ini mengingat Vinales adalah rider dengan catatan waktu terbaik di tiga tes pramusim. Ancaman yang nyata tentunya untuk The Doctor. Tak mengherankan jika nantinya nama Vinales ada di jajaran atas dalam persaingan musim ini.
Kemungkinan besar, nama Lorenzo lah yang akan tergeser dari persaingan terkait masa adaptasinya yang kurang mulus bersama Ducati. Tak hanya Vinales, namun para rider seperti Marquez, Crutchlow, Pedrosa dan Andrea Iannone juga menjadi rider yang harus oleh The Doctor. Di sesi pra musim lalu, Rossi tak bisa berbuat banyak. Ia selalu kalah dari rekan setimnya Vinales di seluruh tes pramusim. Usia juga nampaknya perlahan mulai mengikis fisik Rossi. Di tes Australia lalu, Rossi dikabarkan mengalami kelelahan hebat setelah seharian penuh menjajal YZR M1. Faktor usia memang bisa jadi penghambat Rossi nantinya. Namun, jangan salah jika di usia uzur untuk seorang rider sekalipun Rossi tetaplah menjadi rider yang patut diperhitungkan. Penampilan berkelasnya di Catalunya dan Phillip Island musim lalu menjadi contoh nyata jika dirinya belum habis.
Faktor usia dan munculnya beberapaa rider muda penuh talenta tentunya menjadi tantangan besar bagi Rossi untuk meraih gelar kesepuluhnya. Namun, Rossi tetaplah Rossi yang selalu punya kejutan untuk menghibur para pecinta MotoGP. Bukanlah sebuah hal yang biasa jika Rossi yang sesungguhnya akan muncul saat race kendatipun meraih hasil minor di tes pramusim ?. Masih ada peluang bagi rider kelahiran Tavulia ini untuk menggenapi gelarnya menjadi 10 meskipun nantinya akan sangat sulit. Jadi, mampukah kau meraihnya, Vale ?.
Thanks for reading.


0 komentar:
Post a Comment