Leicester oh Leicester......
Nasib buruk sepertinya masih enggan pergi dari sang juara bertahan Premier League, Leicester City. Teranyar, mereka harus tersisih dari ajang piala FA ( satu - satunya ajang yang mungkin mereka menangi ) setelah mereka takluk dari divisi League One, Millwall. Lebih mengenaskan lagi karena mereka kalah melawan Millwall yang notabene harus bermain dengan 10 orang setelah salah satu pemainnya, Jake Cooper harus dikartu merah setelah terlibat keributan dengan kiper Leicester, Ron Robert Zieler. Catatan ini tentu menambah buruk perjalanan mereka musim ini. Di ajang Premier League, mereka masih tertahan di posisi 17, hanya selisih satu angka dari zona degradasi. Di ajang piala liga Inggris, mereka harus terdepak di babak ke 2. Lain hal di ajang Liga Champions dimana mereka lolos ke babak 16 besar dengan status juara grup, mengangkangi raksasa Portugal, FC Porto.
Tak Segarang Musim Lalu
Tak ada yang berubah secara signifikan dari susunan pemain ataupun taktik yang digunakan Leicester musim ini dibandingkan musim lalu. Sebagai juara Premier League ditambah tuntuan tampil di Kompertisi Eropa membuat mereka begi aktif di bursa transfer musim panas lalu. Ahmed Musa, Demaray Gray, ataupun Wilfried Ndidie telah mereka datangkan untuk berkolaborasi dengan nama - nama lama seperti Jamie Vardy, Ryad Mahrez ataupun Shinji Okazaki. Namun, ternyata pembelian - pembelian tersebut masih belum memberikan dampak yang signifikan untuk Leicester. Jika menilik gaya bermain, merekapun masih memakai taktik yang sama layaknya musim lalu, yakni dengan bermain bertahan, lalu memainkan bola panjang untuk melancarkan counter attack. Cara ini begitu fasih dilakukan Leicester musim lalu, dengan mangandalkan pemain - pemain cepat seperti Jamie Vardy ataupun Ryan Mahrez. Namun, cara ini sepertinya sudah dapat dipatahkan oleh tim - tim Premier League, terutama tim - tim enam besar. Tengok saja catatan mereka di Premier League sejauh ini. Mereka baru meraih 5 kemenangan, 6 hasil imbang dan menelan 25 kekalahan dari 25 pekan Premier League sejauh ini. Sungguh catatan yang mengenaskan untuk sang juara bertahan. Lantas, apa yang salah dengan Leicester ?. Jawabannya adalah : Kante. Kante di musim lalu begitu diandalkan Leicester untuk memutus alur serangan lawan. Bersama Danny Drinkwater, keduanya menjelma sebagai dinamo utama dalam sistem permainan ala Ranieri. Kepiawaian Kante bisa dilihat dari catatannya musim lalu. Dengan catatan 179 intersep, dialah pemain dengan catatan intersep terbanyak. Begitupula dengan tekel dimana dia berhasil mencatatkan rataan 6,3 tekel berhasil per pertandingan. Catatan yang begitu luar biasa untuk seorang holding midfielder yang hanya memiliki tinggi 169 cm. Berbanding terbalik dengan Leicester, Chelsea sang pemilik Kante saat ini justru sedang dalam performa ciamik. Bersama Nemanja Matic, Kante menjadi andalan di lini tengan Chelsea, menyingkirkan Cesc Fabregas ke bangku cadangan.
Dalam performa menanjak dan sempat mencatatkan 15 kemenangan beruntun membuat Chelsea menjadi kandidat terkuat dalam perebutan gelar juara Premier League. Hal tersebut juga berbanding lurus dengan kembalinya performa para pemain andalan seperti Diego Costa dan Eden Hazard. Kembali ke Leicester, hal ini tentu mengingatkan kita kepada apa yang dialami Chelsea musim lalu. Dengan status sebagai juara bertahan, performa mereka justru menukik tajam di paruh pertama musim, yang berimbas pada pemecatan Jose Mourinho. Saat itu dari 19 pekan awal Premier League, mereka menelan 10 kekalahan dan hanya meraih 4 kemenangan. Seiring dengan kepindahan Kante ke Chelsea, tampaknya nasib baik juga turut berpindah ke London, berbanding terbalik dengan nasib sang juara bertahan. Kalah 1-4 melawan Liverpool dan Manchester United serta kalah 0-3 melawan Chelsea ( home & away ) menjadi beberapa catatan merah dari sekian banyak hasil buruk yang diraih Leicester musim ini. Sebagai catatan lain, Leicester belum sekalipun mencetak gol di ajang Premier League sejak pergantian tahun.
Harus Berbenah
Liga Champions mungkin adalah satu - satunya ajang yang bisa mereka menangi musim ini, walaupun butuh banyak keajaiban mengingat masih banyaknya raksasa eropa yang masih bertahan. Terdekat, Rabu nanti mereka akan melawat ke Estadio Ramon Sanchez Pizjuan, untuk menghadapi Sevilla di babak 16 besar Liga Champions. Bukan pekerjaan mudah tentunya untuk Ranieri. Apalagi, mereka tengah dalam performa yang sangat baik di tujuh pertandingan terakhi dengan catatan 6 kemenangan dan 1 kekalahan ( takluk 1-3 dari Espanyol ). Merekalah yang menghentikan rentetan 40 kemenangan milik Real Madrid Januari lalu. Peringkat ketiga adalah cerminan betapa meningkatnya performa Sevilla dibanding musim lalu. Berbenah adalah satu - satunya jalan untuk Ranieri jika tak ingin kehilangan tempatnya sebagai juru taktik Leicester. Bermain sabar dan sesekali melancarkan serangan balik bisa menjadi pilihan untuk Ranieri. Mereka juga harus mewaspadai pemain seperti Stevan Jovetic ataupun Samir Nasri yang tentunya akan menjadi andalah Sevilla nantinya. Jika semua taktik berjalan sempurna, bukan tidak mungkin performa impresif yang mereka tampilkan saat menundukkan Manchester City ( dengan skor 4-2 ) Desember lalu bisa terulang nantinya.
Kemenagan tentunya akan mendongkrak moral para pemain Leicester, untuk setidaknya memperbaiki posisi mereka di klasemen Premier League nantinya. Jika nantinya kalah, posisi Ranieri di kursi kepelatihan Leicester tentunya semakin terancam. Tapi, jika akhirnya mereka kalah lagi, publik sepakbola hanya bisa berkata : " Leicester oh Leicester, malangnya nasibmu".
Thanks for reading


0 komentar:
Post a Comment