All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Mereka Para Raksasa Eropa Yang Tertidur


Dalam beberapa tahun terakhir, kita tahu bahwa tim - tim seperti Barcelona ataupun Real Madrid bergantian menguasai hegemoni sepakbola Eropa. Ada juga Atletico, Bayern Munich ataupun Sevilla yang begitu konsisten dalam beberapa musim terakhir. Namun, ada juga beberapa klub yang dulunya pernah mencatatkan sejarah emas di kompetisi Eropa. Bisa dibilang, mereka tengah 'tertidur', dalam artian sedang berusaha membangun kembali kejayaan mereka di benua biru. Nah, berikut adalah beberapa klub yang sedang dalam proses membnagun kembali kejayaan mereka.

1. Juventus

Mereka adalah finalis dua musim lalu, namun harus takluk dari raksasa Spanyol, Barcelona. Terakhir kali mereka menjadi jawara eropa adalah pada musim 1995/1996 dengan mengalahkan Ajax Amsterdam besutan Louis Van Gaal. Unggul lebih dulu lewat gol Fabrizio Ravanelli, Jari Litmanen berhasil menyamakan kedudukan lima menit jelang turun minum. Skor 1-1 ternyata bertahan hingga 120 menit dan memaksa pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti  Semua eksekutor Juventus sukses menunaikan tugasnya, sementara dari kubu Ajax, gagalnya Edgar Davids dan Sonny Silooy membuat mereka harus merelakan trofi Liga Champions jatuh ke tangan Juventus. Hasil yang cukup pahit untuk Ajax mengingat mereka menyandang status juara bertahan kala itu. Sedangkan untuk Juventus, gelar tersebut seakan melepas dahaga mereka di Liga Champions yang sebelumnya harus puasa gelar selama 11 tahun. Selain itu, gelar tersebut juga sebagai pelipur lara di ajang Serie A setelah gelar juara jatuh ke tangan AC Milan. Sedangkan di musim lalu, mereka hanya bisa menjejak babak 16 besar setelah disingkirkan raksasa Bundesliga, Bayern Munich.

2. Ajax Amsterdam


Diperkuat oleh pemain - pemain legendaris seperti Clarence Seedorf, Jari Litmanen dan Frank de Boer, Ajax berhasil menjadi yang terbaik di benua biru di musim 1994/1995. Bertanding di Ernst-Happel Stadium, Austria, Ajax yang kala itu diasuh Louis Van Gaal keluar sebagai kampiun setelah mengalahkan wakil Italia, AC Milan dengan skor 1-0 lewat gol yang dicetak Patrick Kluivert di menit 85. Namun, gelar tersebut hanya tinggal cerita karena kenyataannya sampai sekarang, gelar tersebut adalah gelar terakhir Ajax di kompetisi Eropa. Setelahnya mereka seakan kesulitan untuk mencetak prestasi di ranah Eropa, khususnya di Liga Champions. Seperti kita ketahui, dalam beberapa musin terakhir Ajax lebih sering berkutat di Europa League. Lebih ironis lagi karena perjalanan mereka di ajang tersebut tak berakhir dengan gelar juara. Di musim ini sendiri Ajax bahkan tak mampu untuk sekedar lolos ke fase grup setelah secara mengejutkan disingkirkan tim asal Ukraina, Rostov. Setelah bermain imbang 1-1 di Amsterdam Arena, mereka secara memalukan takluk 0-4 saat bertamu ke Ukraina. Hasil yang cukup menyedihkan tentunya untuk klub dengan sejarah panjang seperti Ajax yang pernah menjuarai Liga Champions untuk tiga musim beruntun.

3. Liverpool


Drama terjadi di Istanbul. Liverpool menjadi juara lewat comeback gemilang melawan AC Milan. Gol - gol dari Paolo Maldini dan Hernan Crespo ( dua gol ) membuat para Liverpudlian terdiam saat half time. Namun chant yang tak henti - hentinya mereka nyanyikan berbuah manis karena kita semua tahu siapa yang tertawa di akhir laga. Drama dimulai saat crossing John Arne Riise berhasil ditanduk dengan sempurna oleh sang kapten, Steven Gerrard. Gol dari Vladimir Smicer dan Xabi Alonso empat menit kemudian membuat skor kembali berimbang hanya dalam waktu 6 menit. Skor 3-3 berakhir hingga akhir laga dan memaksa pertandingan dilanjutkan ke drama adu penalti. Penyelamatan Dudek terhadap tendangan Shevchenko selaku algojo penalti terakhir Milan membuat trofi Liga Champions terbang ke Merseyside dan mengakhiri thriller  laga ini dengan cara yang tak diduga. Dan menjadi sebuah kepastian jika laga ini akan selamanya dikenang dalam sejarah sepakbola eropa bahkan dunia. Namun, Liverpool yang sekarang bukanlah Liverpool yang dulu kita kenal. Mereka seperti kesulitan untuk memberikan magis mereka di kompetisi Eropa. Mereka sempat lolos ke fase grup di musim 2014/2015, tetapi tersingkir di fase yang sama setelah kalah bersaing dengan Real Madrid dan FC Basel. Di musim lalu mereka berhasil menembus final Europa League, namun kalah dengan skor akhir 1-3 dari wakil Spanyol Sevilla.

4. Benfica


Benfica adalah kampiun Liga Champions 1961/1962 setelah menaklukan raksasa Spanyol Real Madrid dengan skor akhir 5-3. Hattrick yang ditorehkan Ferenc Puskas seakan tak berarti setelah gawang Madrid diberondong lima gol oleh Benfica, dua diantaranya dicetak oleh sang legenda, Eusebio. Sukses ini juga mengikuti sukses di musim sebelumnya dimana Benfica keluar sebagai juara setelah mengalahkan wakil Spanyol lainnya, Barcelona dengan skor akhir 3-2. Namun, setelah final melawan Madrid, sang pelatih Bela Guttmann mengeluarkan sumpah jika Benfica tak akan pernah lagi menjadi kampiun Eropa. Sumpah tersebut sendiri keluar setelah Guttmann menganggap jika manajemen Benfica berbohong dimana jika Benfica menjadi kampiun, sang pelatih akan mendapatkan bonus besar dari manajemen klub. Namun kenyataannya adalah bonus tersebut tak kunjung diturunkan. Dan konsekuensinya terlihat jelas dimana hingga kini, kutukan tersebut masih berlaku dan Benfica yang tak kunjung mendapatkan gelar kompetisi Eropa adalah bukti konkritnya.

5. AC Milan


Tak diragukan lagi jika AC Milan adalah salah satu raksasa Eropa dengan catatan 7 gelar di Liga Champions, hanya kalah dari Real Madrid. Gelar Liga Champions sendiri terakhir kali terbang ke San Siro di musim 2006/2007 setelah mengalahkan wakil Inggris Liverpool dengan skor akhir 2-1. Laga ini sendiri tak ubahnya pertandingan balas dendam dimana pada dua musim sebelumnya Milan harus takluk dari Liverpool di final lewat drama adu penalti. Dua gol Milan seluruhnya diborong oleh Filippo Inzaghi yang di akhir laga dinobatkan sebagai Man of the Match. Sementara gol Liverpool dicetak oleh Dirk Kuyt. Dan tampaknya gelar tersebut tinggal sejarah karena Milan yang sekarang adalah klub yang memiliki masalah finasnsial yang serius hingga sang bos Silvio Berlusconi harus menjual sebagian sahamnya untuk menyelamatkan klub. Masalah finansial tersebut jugalah yang menmbuat Milan tertatih di Serie A dan untuk mendapatkan tiket ke Eropa saja adalah tantangan yang amat berat. Mereka kesulitan mendatangkan pemain berkelas dan hanya bisa meminjam pemain dengan kualitas 'seadanya' dikarenakan nilai hutang klub yang begitu tinggi. Kembalinya hegemoni Juventus setelah skandal calciopoli serta berkembangnya tim - tim seperti Napoli, AS Roma dan Lazio membuat peluang mereka untuk lolos ke kompetisi eropa terbilang sangat sulit, kecuali jika mereka berani mendatangkan pemain bintang tentunya.

Nah, tim - tim yang disebutkan adalah mereka - mereka yang saat ini sedang mencoba membangun ulang kekuatan mereka. Semoga mereka bisa kembali secepat mungkin agar tercipta sepakbola eropa yang kompetitif dimana saat ini klub - klub Spanyol bergantian menguasai Eropa. Semoga artikel ini bermanfaat.

Thanks for reading....
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment