Ranieri Adalah Legenda Untuk Kami
Berakhir sudah perjalanan Claudio Ranieri setelah manajemen Leicester memutuskan untuk memecat Ranieri setelah serangkaian hasil buruk sepanjang musim ini. Hal tersebut tentu mengejutkan bagi semua pihak, tak hanya di Liga Primer namun juga di seluruh belahan dunia. Betapa tidak, musim lalu bak sebuah dongeng bagi Leicester. Tak diunggulkan dan hampir terdegradasi membuat mereka tak lebih dari sekedar tim yang nantinya hanya bisa berjuang dari jeratan degradasi. Namun, fakta di lapangan berkata lain dari apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Tak disangka jika di akhir musim Leicester berhasil menjadi juara, mengangkangi tim - tim dengan tradisi juara layaknya Manchester United, Liverpool, Arsenal, Chelsea ataupun tim - tim perusak dominasi big four seperti Tottenham Hotspurs, Manchester City dan juga Everton. Dengan pola permainan bertahan dan counter attack dengan kombinasi long ball membuat banyak tim seperti kesulitan dalam menghadapi Leicester. Menang 2-1 atas Chelsea, 2-0 atas Liverpool atau 3-1 atas City ( di Etihad Stadium ) adalah bukti sahih betapa bagusnya permainan Leicester musim lalu. Hal ini tentu tak lepas dari tangan dingin seorang Claudio Ranieri. Berkat Ranieri lah Leicester mencetak sejarah yang mungkin sulit untuk diulang kembali nantinya. Sebelum kedatangan Ranieri, prestasi terbaik Leicester ialah sebagai runner up pada tahun 1929.
Menjadi sesuatu yang luar biasa tentunya jika Leicester keluar sebagai juara di liga yang sangat kompetitif layaknya Premier League. Di akhir musim, mereka keluar sebagai juara dengan keunggulan 7 poin atas Arsenal di posisi kedua. Hal tersebut juga didukung oleh penampilan gemilang beberapa pemainnya seperti Jamie Vardy, Ryad Mahrez, Danny Drinkwater dan juga N'golo Kante. Vardy dan Mahrez tampil gemilang di lini serang The Foxes dengan 45 gol Leicester dayang dari kaki keduanya dengan rincian Vardy mencetak 25 gol sedangkan Mahrez mendonasikan 21 gol. Di akhir musim, Mahrez terpilih sebagai pemain terbaik Liga Inggris. Sementara itu tajamnya Vardy dan Mahrez juga tak lepas dari kontribusi kedua gelandang tengahnya, yakni Kante dan Drinkwater. Drinkwater berperan sebagai playmaker sedangkan Kante memilki peran sebagai perusak serangan lawan. Berkat Ranieri pulalah, The Foxes untuk pertama kalinya merasakan atmosfir Liga para raksasa eropa yakni Liga Champions.
Maka tentu saja banyak simpati yang terus berdatangan menyusul keputusan mengejutkan tersebut dan juga tak sedikit manajer - manajer di Premier League yang merasa jika Ranieri masih layak mendapatkan kesempatan untuk melatih Leicester kedepannya. Sebut saja Mourinho. David Moyes bahkan Carlo Ancelotti pun ikut bersimpati atas pemecatan koleganya itu. Setelah menjalani musim yang begitu gemilang, Leicester terlihat begitu tertatih musim ini dengan hanya berjarak satu poin dari zona degradasi. Sementara itu di ajang Liga Champions, mereka takluk 1-2 dari tim kuat Sevilla di leg pertama. Namun setidaknya mereka masih memilki peluang lolos karena mamilki satu gol tandang yang sangat bergharga tentunya. Namun partai melawan Sevilla tersebut ternyata adalah parta terakhir Ranieri bersama The Foxes. Berkat Ranieri trofi Premier League datang ke Leicester, berkat dirinya pula Leicester bisa merasakan bagaimana bertanding di ajang Liga Champions.
Prestasi Leicester bersama Ranieri akan selamanya dikenang. Banyak warga Leicester yang merasa kehilangan setelah mendengar kabar dipecatnya manajer yang telah mencetak sejarah untuk mereka. Namun mereka pantas menepuk dada dan berkata " Ranieri Adalah Legenda Untuk Kami".
Thanks for reading....

0 komentar:
Post a Comment