All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Arsenal Yang Selalu Saja Seperti Itu


Arsenal harus kembali menerima kenyataan pahit setelah mereka mengalami de javu malam tadi. Kekalahan dengan skor 1-5 menunjukkan betapa kolapsnya mereka di pertandingan itu. Kalah dengan skor yang sama dengan leg pertama membuat mereka tersingkir dengan agregat telak 2-10. Mereka sempat menghidupkan asa setelah Theo Walcott mencetak gol di menit 20. Mereka menutup babak pertama dengan secercah harapan. Namun, kartu merah yang diterima Laurent Koscielny membuat perjuangan mereka terhenti saat itu juga. Setelah Koscielny diusir, Bayern mulai membuka keran gol mereka. Penalti Lewandowski mengawali comeback Bayern di menit 55. Diiringi gol dari Arjen Robben dan Douglas Costa. Dua gol dari Arturo Vidal membuat Bayern menutup laga ini dengan kemenangan telak 5-1.



Apa yang diperlihatkan Arsenal tadi malam seolah membuat mereka memiliki pola yang sama setiap musimnya. Arsenal mengawali musim demi musim dengan status unggulan di kancah domestik. Namun, de javu seperti sudah melekat pada mereka. Tampil prima di awal musim, mereka selalu terlihat kehabisan bensin setelah paruh musim.Tak hanya di kancah domestik, namun juga di kancah Eropa. Kekalahan atas Bayern malam tadi membuat mereka harus terhenti di babak 16 besar untuk tujuh musim secara beruntun. Di ajang Premier League saat ini mereka sudah berjarak 16 poin dari sang pemuncak klasemen Chelsea. Dan seperti musim - musim sebelumnya, mereka hanya tinggal memperjuangkan tempat mereka di posisi empat besar demi tiket ke Liga Champions musim depan. Sebuah catatan tragis untuk klub penuh sejarah seperti Arsenal. Praktis, piala FA adalah satu - satunya ajang dimana mereka bisa meraih trofi musim ini.

Di awal kompetisi hingga bulan Oktober, Arsenal sempat bersaing di jajaran tiga besar Premier League. Namun, memasuki November performa mereka berangsur menurun dan setelah pergantian tahun, mereka sudah tertinggal 10 angka dari Chelsea. Sempat meraih beberapa hasil positif di sepanjang Januari, mereka mulai kolaps memasuki pertengahan Februari. Tercatat, hanya satu kemenangan yang mereka raih dari empat pertandingan terakhir yakni melawan Sutton FC di babak 16 besar FA Cup. Sementara di dua pertandingan terakhir, mereka harus takluk 1-3 dari Liverpool di Anfield dan teranyar kekalahan telak 1-5 dari Bayern semalam. Masalah yang dialami Arsenal sangat terlihat jelas, yakni minimnya variasi taktik yang dimiliki oleh sang arsitek, Arsene Wenger. Wenger seolah hanya memiliki satu taktik pakem dan jika taktiknya tak berjalan sesuai rencana, dia seolah mati kutu dan tak memiliki plan B. Pelatih yang sudah menangani Arsenal selama 20 tahun ini terlihat kesulitan beradaptasi dengan kultur taktikal sepakbola modern. Tak hanya itu karena saat ini dirinya sedang diterpa isu tak sedap terkait relasinya dengan Alexis Sanchez. Sanchez sendiri secara mengejutkan dicadangkan oleh Liverpool pekan lalu dengan alasan taktikal. Namun, media - media Inggris menyebut jika hubungan diantara keduanya sedang memanas. Rumor tersebut jelas memperkuat indikasi jika Sanchez sudah tak betah di Emirates Stadium. Sudah selesai ? Tidak. Kontrak Wenger akan berakhir pada akhir musim ini. Dan seperti musim - musim sebelumnya, di saat Arsenal sedang kolaps dan masa denpan Wenger dispekulasikan, muncullah sejumlah nama yang disebut akan menggantikannya. Nama terakhir yang dirumorkan adalah pelatih Juventus, Max Allegri. Tapi jika nanti performa tim sudah membaik dan tiket UCL berhasil mereka dapatkan, tawaran kontrak baru datang dengan begitu mudahnya untuk Wenger. Selalu saja begitu setiap musimnya. Namun untuk musim ini, banyak yang meyakini ( terutama para fans ) jika sudah tiba waktunya bagi Wenger untuk angkat kaki. Pergantian pelatih diyakini bisa jadi satu - satunya cara untuk mengubah peruntungan Arsenal di setiap musimnya.

Puasa gelar EPL selama 13 tahun jelas bukanlah catatan menyenangkan untuk The Gunners. Mereka butuh suasana baru untuk mengembalikan mentalitas juara mereka. Bisa jadi, di musim ini mereka tak lolos ke Liga Champions mengingat ketatnya persaingan tim - tim di posisi 2 hingga 6. Jika kolaps mereka berlanjut, mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada Liga Champions. Ironis memang melihat Arsenal, tim yang diperkuat pemain - pemain berkualitas setiap musimnya hanya bisa bersaing di zona Liga Champions. Siklus yang sama sudah mereka alami sejak terakhir kali juara di tahun 2004 lalu. Cemerlang di awal musim, jomplang setelah paruh musim. Entah itu di kancah domestik atau di panggung eropa. De Javu yang seolah selalu mengiringi Arsenal setiap musimnya.


Jadi, masih ingin mempertahankan Wenger, Arsenal ?
Semoga artikel tersebut bermanfaat.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment