All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Bukan Debut Impian Lorenzo


Jorge Lorenzo tak berdaya di seri pertama MotoGP musim ini di Qatar. Setelah tampil cukup bagus di sesi latihan bebas, posisi 12 adalah hasil akhir yang diraih oleh sang pemenang GP Qatar musim lalu tersebut. Ketidakberdayaan Lorenzo agaknya bisa dimaklumi mengingat perbedaan karakter yang mencolok antara motor Yamaha dan Ducati. Berbeda dengan Lorenzo, sang rekan setimnya Andrea Dovizioso mampu bersaing di baris depan dan akhirnya finis di posisi dua. Namun perlu diingat juga jika Dovizioso telah membela Ducati sejak 2013 dan sudah tahu betul bagaimana karakter dari Desmocedici.

Musim ini Lorenzo pindah ke Ducati setelah sembilan tahun membela panji Yamaha. Ketidakakurannya dengan Vale plus nilai kontrak yang lebih besar dibanding Yamaha jadi faktor utama kepindahan Jorge. Apalagi, terhitung sejak 2015 Ducati sudah menunjukkan perbaikan performa. Puncaknya adalah dua kemenangan yang mereka raih musim lalu di Austria dan Malaysia. Hal lain yang ikut memicu kepindahan Jorge adalah motivasi sang Por Quera untuk menjuarai MotoGP bersama pabrikan lain, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Valentino Rossi dan Casey Stoner di era MotoGP.

Namun, realita yang terjadi tak sebanding dengan ekspektasi. Lorenzo terlihat kesulitan mengendalikan Desmocedici di sepanjang tes pramusim. Meski sempat menembus posisi empat di sesi tes Qatar, di race sesugguhnya lah Lorenzo merasakan bagaimana sulitnya menaklukan Desmocedici. Start dari posisi 12, Lorenzo akhirnya finis di posisi yang sama. Hal berbeda justru diraih oleh sang pengganti Lorenzo di Yamaha, Maverick Vinales. Mendominasi seluruh tes pramusim dan diakhiri dengan kemenangan di debutnya untuk Yamaha jadi bukti jika Yamaha telah membuat keputusan tepat dengan melepas Lorenzo ke Ducati.

Terhitung hanya sedikit yang bisa menaklukan motor Ducati dan sejauh ini baru Casey Stoner sebagai satu - satunya rider yang menjadi juara dunia bersama Ducati. Karakter Ducati yang 'buas' menjadi tantangan tersendiri bagi rider manapun. Dengan tenaga yang begitu besar, Ducati adalah motor yang tergolong sulit di handling dan sangatlah menuntut fisik para pembalap. Valentino Rossi, Cal Crutchlow, Nicky Hayden hingga Marco Melandri menjadi deretan rider yang tak mampu menaklukan sang Desmocedici. Namun, Lorenzo adalah pembalap yang sama sekali berbeda dibanding rider yang sudah disebutkan di atas. Reputasinya sebagai peraih tiga gelar MotoGP menjadi alasan kuat. Apalagi, dirinya juga dibantu oleh sang juara dunia milik Ducati, Casey Stoner. Masukan dari Stoner tentu sangatlah berharga bagi perkembangan adaptasi Lorenzo bersama Ducati musim ini. Terlebih lagi, hubungan keduanya terhitung sangat baik.


Memang masih terlalu dini mengesampingkan Lorenzo dari baris depan. MotoGP musim ini baru berjalan satu race dan masih ada 17 race lain menanti. Jika mampu berdaptasi dengan baik setelah hasil mengecewakan di Qatar, kita bisa melihat lagi sosok Lorenzo di baris depan. Jika terhambat, raihan podium tampaknya bukanlah hal yang buruk untuk Jorge. Sudah semestinya jika Ducati memaklumi hasil yang diraih Lorenzo di Qatar. Finis di posisi 12 tentu bukanlah hasil yang menyenangkan bagi Lorenzo di balapan perdananya bersama tim baru. Masih banyak seri yang tersisa dan masih banyak juga ruang bagi Jorge untuk berkembang. Good luck, Jorge !.

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment