McLaren Yang Pesakitan
McLaren kembali menuai hasil negatif dengan gagalnya kedua pembalapnya menyentuh garis finis pada seri pembuka di Albert Park pekan lalu. Stoffel Vandoorne out di lap ke sembilan sedangkan Alonso kembali ke pit setelah bermasalah dengan mobilnya saat race menyisakan sembilan lap. Amatlah mengecewakan memang untuk tim sekelas McLaren dengan segudang sejarah yang telah mereka torehkan di ajang Formula 1.
Sejak memutuskan untuk kembali menggaet Honda sebagai pemasok mesin mereka, performa mereka terjun bebas. Masalah mereka hingga kini masihlah sama, yakni problem reliabilitas. Reliabitas mereka amatlah buruk. Di tes pramusim lalu, mereka bahkan tak sampai melahap 200 lap. Bandingkan dengan Mercedes dan Ferrari yang mampu melahap 1000 lap lebih. Tak ayal jika hal tersebut memunculkan pendapat jika McLaren sudah melakukan blunder untuk bekerja sama dengan Honda mengingat performa mobil - mobil bermesin Mercedes amatlah kompetitif.
Sudah banyak race mereka lalui dengan status DNF ( do not finished ). Tentu hal ini turut mengundang komentar negatif dari pembalap andalan mereka sendiri. "Memang kami berada di zona poin pada akhir pekan lalu. Namun, hal tersebut juga tertolong keluarnya beberapa pembalap sepanjang race. Aku pikir jika dalam keadaan normal, kami akan finis di posisi terakhir." ucap Alonso. Alonso tentu menjadi orang yang paling kecewa dengan keterpurukan McLaren. Pindah dari Ferrari yang disebutnya 'jalan ditempat' ke McLaren memunculkan motivasi lebih untuk Alonso. Terhitung, sejak 2006 Alonso belum pernah lagi mencicipi gelar juara dunia setelah terakhir kali bersama Renault. Namun, kepindahannya ke McLaren bisa jadi blunder terbesar dalam karirnya setelah tim asal Inggris tersebut terpuruk di dua musim terakhir.
Sejauh ini hasil terbaik yang bisa mereka raih hanyalah finis kelima di GP Hongaria 2015 lalu. Dalam race yang berlangsung 'normal', mobil mereka tampak tak berdaya bahkan untuk beradu cepat dengan tim sekelas Force India, Toro Rosso maupun Williams. Hal ini tentunya memunculkan kekhawatiran di kubu McLaren. Kekahwatiran terbesar mereka adalah mereka akan ditinggal oleh pembalap andalan mereka Fernando Alonso di akhir musim ini jika tak kunjung bisa menyediakan mobil yang kompetitif. Tak pernah dalam kiprahnya di ajang Formula 1 mereka mengalami keterpurukan seburuk ini. Penurunan performa mereka terhitung sejak Lewis Hamilton angkat kaki dari McLaren pada 2013 lalu dan saat ini Hamilton sedang dalam puncak performanya bersama Mercedes.
McLaren tak bisa seperti ini terus jika mereka ingin kembali ke jajaran tim elite Formula 1. Sebuah hal yang teramat tragis jika menilik keterpurukan mereka sembari melihat dominasi Mercedes mendominasi Formula 1 di tiga musim terakhir. Mereka begitu kompetitif di masa lalu. Mulai dari duet Prost dan Senna, Mika Hakkinen hingga Lewis Hamilton adalah sederet nama yang pernah merasakan manisnya menjadi juara dunia bersama McLaren. Sekarang situasinya sudah amat berbeda dan bisa dibilang mereka sedang berada di titik terendah mereka di ajang Formula 1. Dengan segala sumber dayanya, mereka tentu harus segera berbenah jika ingin kembali kompetitif.

0 komentar:
Post a Comment