Rossi & Vinales : Bom Waktu Yang Bisa Meledak Kapan Saja
Saat Rossi datang kembali ke Yamaha di 2013, harapan akan membaiknya relasi antara The Doctor dan Jorge Lorenzo muncul di paddock Yamaha. Masih teringat di benak mereka bagaimana panasnya rivalitas antara kedua singa buas tersebut sampai - sampai harus ada dinding pembatas diantara kedua garasi mereka agar tak saling bertukar data. Hubungan mereka baik - baik saja di dua tahun pertama. Hal yang sungguh berbeda tersaji di 2015. Persaingan mereka memuncak ke titik nadir. Rossi yang kala itu secara mengejutkan mampu tampil konsisten mendapat persaingan hebat dari Lorenzo.
Drama yang terus bermunculan akhirnya memuncak di tiga seri terakhir. Rossi menuding jika Marquez campur tangan dalam persaingannya dengan Jorge. Di race Malaysia, keduanya bersenggolan dan Rossi dihukum harus start di posisi buncit oleh race direction setelah dinyatakan bersalah. Seperti yang kita tahu, di seri pamungkas di Valencia, Lorenzo keluar sebagai juara dunia setelah mampu memenangi race terakhir sementara Rossi yang sudah berusaha semaksimal mungkin hanya mampu finis keempat. Gelar yang sudah di depan mata sirna karena ucapan The Doctor yang menjadi bumerang.
Di musim lalu, Yamaha bergerak cepat dengan menyodorkan kontrak baru tepat sebelum seri Qatar dimulai. Rossi lah yang akhirnya menandatangani kontrak baru hingga 2018. Sementara itu, negosiasi antara Jorge dan Yamaha masih tersedat. Saat itu Ducati mengambil langkah jitu dengan mengajukan tawaran yang fantastis untuk Jorge. Lorenzo pun akhirnya memilih menerima pinangan Ducati untuk dua tahun kontrak. Setelah menerima tawaran Ducati, Lorenzo mengungkapkan kekecewaan besarnya terhadap Yamaha yang dinilai mengistimewakan Vale. Hal tersebut mungkin saja amatlah pantas dimaklumi. Selain sebagai rider top, kehadiran Vale juga mendongkrak penjualan komersil mereka di seluruh dunia. Dan yang terpenting, Yamaha bisa mencapai titik ini juga berkat adanya Rossi yang hijrah dari Honda ke Yamaha pada 2004 silam. Begitu besar jasa The Doctor untuk Yamaha dan akan lain ceritanya jika saat itu Vale memilih tim lain selain Yamaha.
Terlepas dari begitu vitalnya peran Rossi. kekecewaan sudah terlanjur dirasakan oleh Jorge. Jorge berujar jika Yamaha menjadi juara dunia bersama dirinya dan bukan bersama Vale. Beberapa hari lalu, Lorenzo sekali lagi melontarkan pendapat jika Yamaha mempertahankan Rossi agar mereka bisa menjual banyak motor dan mendatangkan keuntungan besar untuk Yamaha. Komentar yang teremat pedas tentunya dan sisi baiknya komentar tersebut sama sekali tidak digubris oleh Rossi. Segera setelah Jorge resmi pindah, Yamaha langsung bergerak cepat mencari penggantinya. Setelah beberapa nama menguap, akhirnya Yamaha menjatuhkan pilihannya kepada Maverick Vinales. Tak dipungkiri memang jika Vinales adalah rider yang amat bertalenta dan dia sudah membuktikannya musim lalu bersama Suzuki.
Raihan enam podium termasuk satu kemenangan di Silverstone menjadi pencapaian yang terhitung fantastis. Yamaha pun mendapat 'hadiah' dari kepergian Jorge Lorenzo. Namun, secara tak sadar kepergian Jorge juga dengan sendirinya menanamkan bom waktu yang siap meledak kapan saja seiring dengan kedatangan Vinales.
Potensi Konflik
Kepergian Jorge ke Ducati tampaknya bisa di antisipasi dengan baik oleh Yamaha dengan mendatangkan Vinales. Tetapi, muncul pula kekhawatiran jika konflik yang pernah terjadi antara Lorenzo dengan Vale akan terulang kembali. Hal tersebut tak lain disebabkan oleh ciamiknya performa Vinales di sepanjang sesi pramusim dimana dirinya sangat mendominasi. Alhasil, performa Vinales pun banjir pujian demi pujian. Hal berkebalikan justru dialami Rossi yang begitu kesulitan selama pramusim. Sorotan pun berganti ke Vinales dengan performanya yang gemilang. Dan puncaknya tentu saja adalah kemenangan di seri perdana di Qatar pekan lalu. Banyak pihak yang sudah memprediksi jika Vinales nantinya akan menjadi calon kuat peraih gelar di musim ini. Adaptasinya yang begitu cepat dengan M1 membuat Yamaha bisa bernafas lega. Vinales sudah tampil lebih dari apa yang mereka harapkan. Namun, masalah yang sesungguhnya akan muncul cepat atau lambat.
Ketika nantinya Rossi sudah mulai mendapatkan ritme yang sejajar dengan Vinales, saat itulah ujian yang sebenarnya bagi kubu Yamaha. Saat mereka mulai berimbang, maka dengan sendirinya muncul psy war ala The Doctor. Komentar - komentar pedas yang sering keluar dari mulut Rossi untuk menjatuhkan rivalnya. Vinales adalah pembalap muda dan bertalenta. Masa depan Yamaha terjamin bila mereka mampu 'merawat' Vinales dengan baik. Namun jika Vinales terpancing oleh ucapan panas Rossi, konflik pun tak bisa dihindari oleh kubu Yamaha. Bagaimanapun juga, keduanya adalah pembalap yang selalu ingin menang demi gelar juara dunia dan juga kebanggan serta harga diri. Sudah menjadi rahasia umum jika terlalu sulit menempatkan dua singa dalam satu kandang dan Yamaha pernah mengalaminya yang berimbas pada perginya salah satu ridernya bahkan sampai dua kali.
Keduanya bak dua sisi mata uang. Vinales yang muda dan cepat menjadi investasi jangka panjang Yamaha dalam beberapa tahun ke depan. Bisa dibilang, dirinyalah yang nantinya mampu menyaingi Marq Marquez di masa depan. Di satu sisi lainnya, kehadiran Rossi juga masih sangat dibutuhkan Yamaha. Pengalaman serta masih kompetitifnya The Doctor sejauh ini menjadi tolok ukur. Kemungkinan terburuk jika nantinya konflik tersebut mencuat adalah adanya ultimatum dari kedua rider agar memilih salah satu dari mereka. Situasi yang teramat pelik tentunya jika nanti Yamaha kembali mendapat ultimatum, sama seperti saat Rossi angkat kaki dari Yamaha pada 2010. Kubu Yamaha tentu tak ingin kejadian tersebut kembali terulang nantinya.
MotoGP musim ini masih menyisakan 17 balapan. Kebersamaan Rossi dan Vinales masih sampai akhir 2018 nanti. Akhirnya, potensi munculnya intrik diantara keduanya masih sangat mungkin terjadi. Hanya tinggal menunggu kapan 'bom' tersebut akan meledak. Saat hal itu terjadi, Yamaha kemugkinan besar akan kembali terpecah yang berimbas pada sepak terjang mereka di MotoGP. Kepergian Lorenzo mendatangkan 'hadiah' berupa sosok pembalap potensial dalam diri Vinales. Namun, Lorenzo pergi dengan 'menancapkan' bom waktu di paddock Yamaha. Baik atau buruknya relasi Rossi dan Vinales tergantung dari bagaimana Yamaha memperlakukan mereka. Jika Yamaha kembali membuat blunder, maka mereka harus bersiap menghadapi rivalitas panas diantara kedua rider andalan mereka.



0 komentar:
Post a Comment