Enrique Bagian Dalam Sejarah Los Cules
Keputusan mengejutkan dibuat oleh entrenador Barca Luis Enrique. Enrique memutuskan untuk angkat kaki dari Camp Nou di akhir musim setelah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya yang bakal habis pada musim ini. Keputusan ini pun mengejutkan banyak pihak termasuk dari para pemain Barcelona sendiri. Namun, besarnya tekanan plus harus menjaga suasana antar pemain bintang di ruang ganti menjadi faktor utama alasan Enrique tak memperpanjang kontraknya. Sederet nama masuk bursa calon pengganti Enrique diantaranya adalah pelatih Spurs Mauricio Pochettino dan pelatih Sevilla Jorge Sampaoli. Luis Enrique mulai menangani Barca sejak musim 2014/2015 dan setelahnya meraih sukses besar dalam tiga musim ini.
Enrique datang setelah mundurnya Gerardo Martino yang di musim sebelumnya gagal mempersembahkan satu pun gelar. Pertama kalinya sejak 2007/2008 Barca puasa gelar di akhir musim. Target tinggi pun dibebankan oleh manajemen Barca kepadanya dengan harapan puasa gelar Barca di musim sebelumnya tak terulang lagi. Sederet nama pun didatangkan seperti Luis Suarez, Ivan Rakitic dan Aleix Vidal untuk memperkuat tim. Di awal musim, Barca-nya Enrique belum menunjukan performa yang konsisten dimana saat itu mereka sempat takluk 0-1 oleh Malaga di Camp Nou. Puncaknya tentu saja saat mereka takluk dalam partai akbar El Clasico dengan skor 1-3 di Bernabeu setelah sempat unggul lebih dulu. Memasuki tengah musim, Barcelona mulai menunjukkan tajinya dengan tak terkalahkan di sepanjang Desember hingga April yang diiringi dengan inkonsistensi yang dialami Real Madrid. Barcelona di bawah arahannya bermain lebih direct namun tak meninggalkan ciri khas tiki - taka mereka dengan umpan pendek dari kaki ke kaki. Di bawah arahannya pula kita saat ini mengenal trio monster lini depan Barca yang diisi Messi-Suarez-Neymar atau biasa disebut trio MSN. Ketiganya menjelma menjadi momok yang begitu ditakuti oleh barisan pertahanan lawan. Di akhir musim, ketiganya mencetak 132 gol atau lebih dari 83 persen gol Barca lahir lewat kaki ketiganya. Gelar La Liga akhirnya jatuh ke tangan mereka setelah mengakhiri musim dengan 95 poin, unggul dua angka atas Real Madrid. Tak cukup sampai disitu, di ajang Copa Del Rey mereka juga keluar sebagai juara usai mengandaskan Athletic Bilbao 3-1 di Camp Nou. Puncaknya tentu saja saat mereka berhasil merengkuh gelar Liga Champions setelah mengalahkan wakil Italia Juventus di final yang digelar di Olimpia Stadium Berlin dengan hasil akhir 3-1. Barca pun meraih treble keduanya setelah yang pertama di era Guardiola.
Berlanjut ke musim selanjutnya, dimana di musim lalu mengawali musim dengan gelar UEFA Super Cup setelah mengandaskan Sevilla 5-4 lewat Extra Time. Namun untuk ajang Spanish Super Cup, mereka harus merelakan gelar tersebut jatuh ke tangan Athletic Bilbao setelah kalah agregat 1-5. Di sepanjang awal hingga pertengahan musim perjalanan mereka relatif tak menemui hambatan dan pucaknya tentu adalah kemenangan telak 4-0 atas rival abadi mereka Real Madrid di Santiago Bernabeu. Semakin padunya trio MSN menjadi faktor utama dominannya Barca di waktu tersebut. Di musim lalu jugalah seorang Luis Suarez menemukan kembali ketajamannya dan seakan mengambil panggung utama dari sang megabintang Lionel Messi. Di akhir paruh musim, Barca sudah unggul 10 poin atas rival terdekat yakni Real Madrid. Masalah mulai menghampiri mereka di bulan Maret saat mereka takluk 1-2 dalam partai El Clasico. Setelahnya, mereka menjalani periode buruk dimana dalam lima partai setelah El Clasico, Barca hanya mencatatkan satu kemenangan dan empat kekalahan. Di ajang Liga Champions, mereka harus angkat kaki setelah disingkirkan sesama tim Spanyol, Atletico Madrid di perempat final. Jarak yang tadinya begitu lebar dengan Real Madrid perlahan mulai terkikis menjadi hanya satu poin setelah Barca menelan kekalahan ketiga beruntun di La Liga. Rentetan tersebut membuat masa depan Enrique sempat di spekulasikan. Namun, setelah takluk oleh Valencia, mereka bangkit lewat kemenangan besar 8-0 saat melawat ke Estadio Riazor markas Deportivo La Coruna. Setelahnya, mereka berhasil menyapu bersih pertandingan yang tersisa dengan kemenangan. Gelar La Liga sekali lagi menjadi milik mereka setelah mengakhiri musim dengan keunggulan tipis, satu poin atas Madrid. Sama halnya dengan ajang Copa Del Rey dimana sekali lagi mereka keluar sebagai juara usai menundukkan Sevilla 2-0. Hanya gelar Liga Champions yang lepas dari genggaman mereka dan lebih menyesakkan lagi karena yang keluar sebagai juara justru adalah seteru abadi mereka Real Madrid.
Di musim ini, Barcelona kembali berbenah dengan mendatangkan sejumlah nama seperti Andre Gomes, Samuel Umtiti, Lucas Digne dan juga memulangkan Dennis Suarez. Namun, musim ini berjalan begitu berbeda dengan yang mereka alami musim lalu. Di ajang La Liga mereka sempat tertinggal 8 poin dari Madrid sebelum akhirnya merebut takhta tersebut lewat kemenangan telak 6-1 atas Sporting Gijon. Meski begitu perlu di catat pula jika Madrid masih menyimpan satu pertandingan tunda melawan Celta Vigo. Jika berhasil menang, Barcelona harus rela kembali turun ke peringkat dua. Di ajang Copa Del Rey mereka lagi - lagi kembali menjejak partai final dan akan bertemu Deportivo Alaves 27 Mei mendatang. Puncaknya di ajang Liga Champions dimana mereka terancam tersisih di babak 16 besar setelah takluk dengan skor telak 4-0 atas PSG. Kekalahan di Paris seakan jadi pukulan telak untuk Barcelona dan dikabarkan ruang ganti Barcelona sempat memanas setelahnya. Memang mereka berhasil bangkit lewat kemenangan atas Leganes. Namun kemenangan tersebut didapat dengan susah payah dimana mereka membutuhkan penalti Lionel Messi di penghujung laga untuk memastikan tiga poin. Dan akhirnya setelah partai melawan Gijon kemarin, munculah keputusan mengejutkan tersebut dari mulut Enrique.
Enrique merasa jika dirinya tak sanggup lagi memikul beban yang begitu berat di Barcelona dan memutuskan untuk tak memperpanjang kontraknya di akhir musim. Kekalahan telak dari Paris Saint Germain disinyalir menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan Enrique. Mereka masih berpeluang besar meraih double winners di ranah domestik. Namun untuk ajang Eropa, akan sangat sulit mencetak lima gol ke gawang PSG dimana nantinya PSG diprediksi akan bermain lebih bertahan di leg kedua. Apapun hasil yang diraih Enrique di akhir musim nanti pastinya akan mendapatkan tanggapan berbeda dari para fans Barca. Jika bisa meraih treble untuk kedua kalinya ( dengan catatan mereka harus bisa menciptakan keajaiban di leg kedua nanti ) tentu akan menjadi kado perpisahan yang indah untuk seluruh Barcelonista. Namun jika nantinya Enrique mengakhiri musim tanpa gelar apapun, seharusnya tak akan ada cacian untuknya karena siapapun penggantinya nanti akan mendapatkan warisan mewah berupa pemain - pemain berkualitas dan tentu saja trio MSN. Meski bisa dibilang tak sesukses Guardiola, Enrique berhasil mencatatkan sendiri namanya dalam buku sejarah Barcelona. Mengakhiri musim dengan gelar adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk Barcelona. Tak akan ada trio MSN tanpa Enrique ataupun mungkin Barca masih belum bisa move on dari tiki taka yang terlalu mendewakan possesion football tanpa kehadirannya. Tak perlu memaki Enrique atas kekalahan di Paris karena di dunia tak ada tim yang tak bisa dikalahkan. Di akhir musim nanti, sudah seharusnya para fans Barcelona berterima kasih kepada Enrique karena bagaimanapun juga Enrique telah tercatat sebagai bagian dalam sejarah Los Cules. Gracias , Enrique !
Semoga artikel tersebut bermanfaat.


0 komentar:
Post a Comment