All Article You Need About Football , MotoGP And Formula One.

Perbedaan Kultur Sepakbola Yang Bikin Guardiola Kesulitan


Liga Primer Inggris sudah memasuki masa krusial. Perebutan zona Liga Champions pun kian memanas. Tak terkecuali untuk Manchester City. Penunjukkan Guardiola di awal musim ini membawa angin segar untuk Manchester City. Diketahui pula jika Guardiola adalah manajer yang selama ini mereka inginkan. Prestasi ciamik mereka bersama Manuel Pelegrini pun rela mereka korbaankan demi mendatangkan mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munich tersebut. Riwayat prestasi yang mentereng bersama Barca dan Bayern jadi alasan utama mengapa City begitu terpikat dengan Guardiola. Belum lagi dengan adanya Txiki Bergiristain, mantan direktur Barca saat Guardiola menangani El Barca di medio 2008 - 2012.

Tak ayal jika City memasang target yang lebih tinggi, yakni menjadi salah satu tim besar eropa bahkan dunia. Dan Guardiola adalah perwujudan dari ambisi tersebut. Lalu bagaimana pencapaian mereka sejauh ini bersama Pep ?. Sempat memuncaki Liga Primer ( hingga game week 8 ), perlahan namun pasti City mulai mengalami kesulitan. Hasil imbang melawan Celtic yang diikuti dengan kekalahan telak 4-0 atas Barcelona tentu menghadirkan pertanyaan, apa yang salah dengan City-nya Guardiola ?. Jawabannya ada pada perbedaan kultur antara Liga Primer dibandingan liga - liga eropa lainnya.

Semasa menangani Barca dan Bayern, tim yang diasuh Guardiola amatlah dominan. Bersama Barca, ada 14 trofi yang ia persembahkan selama 4 tahun pengabdiannya di Camp Nou. Pun begitu bersama Muenchen dimana ada 7 trofi yang ia raih selama tiga musim. Artinya, ada 21 trofi selama tujuh musim masa kepelatihannya di dunia sepakbola dengan rataan tiga trofi per musim. Raihan yang tentunya menjadi catatan menggembirakan untuk The Citizens. Namun apa daya jika kini peluang mereka hanyalah tinggal di ajang piala FA. Di liga, jarak yang amat jauh dengan Chelsea membuat posisi empat besar adalah hal yang realistis untuk mereka raih di akhir musim.

Di Inggris, gaya kick n' rush masih amat sering dijumpai oleh beberapa tim, terutama tim - tim menengah kebawah. Gaya main yang cepat dan mengandlakan ( walau tak semuanya ) bola panjang menjadi tontonan yang amat biasa di Liga Primer. Namun hal tersebut bukanlah hal yang familiar untuk Guardiola. Dan hal yang paling kentara dari betapa kesulitannya Guardiola dengan gaya permainan tersenut adalah seringnya City gagal mengamankan second ball atau bola kedua. Bola kedua ini amatlah krusial karena bola lebih sering berada di udara ketimbang di tanah. Sebagai info, bola kedua adalah bola hasil rebound dari bola pertama jika bola pertama gagal dikonversikan menjadi peluang.

Tentu menjadi hal yang tak teramat mengejutkan jika kegagalan City mengantisipasi bola kedua membuat mereka sempat mengalami periode negatif di rentang November - Desember. Tak ayal jika banyak yang mempertanyakan kelayakan Guardiola sebagai pelatih City. Tercatat ada beberapa pertandingan dimana City menuai hasil negatif karena problem second ball ini. Kekalahan 4-2 atas Leicester menjadi salah satunya. Tiga dari empat gol Leicester di laga itu hadir karena kegagalan City mengantisipasi bola kedua. Bola kedua ini bisa dibilang adalah hal baru bagi Guardiola.

Tim - tim di Liga Spanyol dan Jerman tak menerapkan gaya kick n' rush. Mereka bermain lebih terkoordinir ketimbang di Liga Primer. Umpan satu dua dari kaki ke kaki adalah 'kebiasaan' bagi mereka. Hal itulah yang menyebabkan pertandigan di La Liga dan Bundesliga jarang menghasilkan bola kedua. Tak lain karena jarangnya mereka melepaskan long ball. Sangat berbeda dengan di Inggris dimana tim - tim liga primer Inggris masih mengandalkan gaya kick n' rush. Jika ingin memperbaiki prestasi musim depan, Guardiola harus lebih banyak belajar mengantisipasi second ball.

Masalah selanjutnya adalah tim - tim medioker. Liga Primer Inggris adalah liga dengan penuh kejutan dimana sering terjadi sebuah tim medioker mampu menumbangkan para raksasa ( Chelsea vs Crystal Palace pekan lalu adalah contohnya ). Hal tersebut tak ayal jika setiap pertandingan di Premier Leage amat sulit diterka. Bahkan jika suatu tim diunggulkan dengan koefisien yang tak masuk akal sekalipun. Hal ini lah yang tak terjadi di liga yang pernah dirasakan oleh Guardiola. Di liga Sapnyol, begitu kokohnya hegemoni Barcelona ( dan Real Madrid tentunya ) membuat para tim - tim kecil seolah kalah sebelum bertanding. Menang dengan skor telak dan statistik pertandingan yang mencolok sudah sering kita lihat selama Pep menangani Barca.

Pun begitu saat ia menangani Bayern. Dominasi yang seolah tak berujung plus tak konsistennya Dortmund sebagai pesaing membuat Bundesliga tampak membosankan. Dan persamaan kedua liga tersebut adalah : kebanyakan tim kecil lebih sering bermain pasif jika melawan tim besar. Ada perbedaan yang mencolok tentunya dengan Premier League. Bagi tim Bundesliga dan La Liga, raihan satu poin melawan tim besar ( dalam hal ini Barca dan Bayern ) seolah terasa seperti kemenangan. Hal yang akan sangat sulit dijumpai di Inggris dimana tim - tim yang tak diunggulkan begitu bersemangat meraih kemenagan. Bahkan jika melawan tim besar sekalipun.

Masalah terakhir adalah, Guardiola seolah ingin menjadikan City seperti Barcelona. Untuk hal yang satu ini, Guardiola sudah mencobanya di Bayern dan berhasil ( meski gagal di Eropa ). Sejak ditangani Pep, City yang sekarang lebih mengandalkan possesion football. Namun, possesion footbal bisa jadi adalah taktik tak begitu cocok dengan kultur sepakbola Inggris. Penguasan bola hingga 70 persen ke atas sudah sering kita lihat musim ini. Tapi, dominasi City tersebut tak selalu berujung kemenangan. Kekalahan atas Leicester ( lagi ) adalah contohnya, City mendominasi hingga 72 persen penguasaan bola. Namun, apa daya jika di akhir laga mereka harus tertunduk dengan skor 4-2.

Terlalu fokusnya Guardiola ke sektor penyerangan memunculkan masalah di lini pertahanan. Possesion football nya Guardiola mengharuskan bola tetap mengalir untuk memberikan ancaman konstan ke lini pertahanan lawan. Otomatis, jarak antar pemain harus lah rapat dan garis pertahanan pun bisa naik hingga garis tengah lapangan. Tetapi , hal ini justru menjadi bumerang untuk City. Dengan sekali intersep, tim lawan bisa dengan mudah menembus pertahanan City hanya dengan beberapa sentuhan. Garis pertahanan yang tinggi menjadi penyebab betapa City kesulitan menghadapi counter attack. Taktik yang justru menjadi sia - sia dikarenakan tim liga primer lebih sering mengandalkan fisik dan kecepatan. Dan kecepatan menjadi problem utama mereka di lini pertahanan.

Jika ditilik lebih jauh, kelemahan Guardiola di sektor pertahanan sudah terlihat sejak ia menangani Barcelona. Dua gol Chelsea di semifinal Liga Champions 2012 menjadi contohnya. Seolah belum belajar dari hal tersebut, di Bayern ia kembali menemui masalah serupa. Tentu masih teringat bagaimana trio BBC nya Real Madrid mengacaukan pertahanan Bayern lewat kecepatannya di semifinal UCL. Peluang yang akhirnya dikonversi menjadi gol oleh CR7. Gol yang hanya tercipta dari beberapa sentuhan saja. Sesuatu yang menjadi pr besar bagi Pep.

Pindah ke Inggris, meskipun sudah sedikit membaik, masalah defense masih menjadi problem utama. Kekalahan City atas Chelsea 1-3 Desember lalu plus tersingkirnya mereka dari ajang Liga Champions oleh AS Monaco tak terlepas dari keroposnya lini belakang mereka. Konsekuensinya pun harus mereka tanggung. Dominan di awal musim, alih - alih bersaing menjadi juara, saat ini The Citizens 'hanya' bisa terlibat dalam persaingan untuk lolos ke Liga Champions. Dan persaingan pun tak mudah karena Liverpool dan Spurs, kedua rival mereka sedang dalam laju positif. Masih ada ajang FA Cup yang bisa mereka raih. Dan tiket Liga Champions agaknya bukanlah hal yang terlalu buruk di musim pertama City bersama Pep.

****

Dominan saat menangani Barca dan Bayern tak serta merta membuat dominasinya akan mengikuti Pep ke Inggris. Begitu kompetitifnya Liga Primer ketimbang liga - liga lain menjadi tantangan tersendiri. Memperbaiki antisipasi second ball dan menambal lubang di lini pertahanan menjadi hal krusial yang harus dibenahi oleh Pep. Selain itu, ia juga harus secepatnya 'move on' dari bayang - bayang Barcelona. Tak ada salahnya jika gaya tiki - taka miliknya sedikit di modifikasi agar bisa menciptakan keseimbangan dalam sistem permainan The Citizens. Masih ada dua dari tiga tahun masa kontrak Pep di City. Jika mampu memberikan keseimbangan dalam sistem permainan The Citizens, trofi juara akan datang dengan sendirinya asalkan mereka konsisten. Jika tak mampu memberikan prestasi untuk City, maka bersiaplah kita melihat seorang Guardiola dipecat untuk pertama kalinya.

*di Barca dan Bayern, Guardiola tak dipecat melainkan mengundurkan diri.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment