Welcome, Bianconeri !
Sudah ada satu tim yang memastikan akan tampil di final ajang tertinggi antar klub eropa. Mereka adalah perwakilan Italia, Juventus. Monaco, satu - satunya wakil Prancis berhasil mereka taklukan dengan skor aggregat 4-1. Dani Alves menjadi bintang di semifinal dengan donasi 3 assist dan 1 gol dalam dua leg pertandingan. Harapan akan kembalinya trofi Liga Champions ke Italia pun kembali menyapa di ufuk timur. Terakhir, ada AC Milan yang sampai saat ini menjadi klub terakhir Serie A yang menjuarai Liga Champions. Itupun sudah lama, yakni pada 2007 alias sedekade silam.
Jika menilik dari statistik musim ini, memang tak salah jika menyebut Juve adalah salah satu yang terbaik di Eropa. Mereka baru kebobolan tiga gol di Liga Champions, hanya satu dari open play yakni atas nama Kylian Mbappe Lottin. Yang paling fenomenal tentu saja saat mereka berhasil mendepak Barcelona di perempat final. Blaugrana yang dikenal memiliki trisula terbaik dunia dalam sosok MSN nyatanya tak mampu berbuat banyak. Tak ada satupun gol yang lahir lewat kaki mereka. Mereka harus berhadapan dengan kokohnya tembok trio BBC ( bukan Real Madrid lho ya ). Mereka pun berhasil meredam Barca dalam dua pertandingan beruntun di Liga Champions, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Manchester United pada 2007 dan Bayern Munich pada 2013.
Barzagli, Bonucci dan Chiellini tampil bak sebuah tembok tebal, mungkin setara tembok China. Penyerang sekelas trio MSN dan Radamel Falcao tak mampu menembus ketiganya. Toh jika berhasil menemukan celah, mereka masih harus berhadapan dengan Gianluigi Buffon, sang kiper veteran yang tak kunjung meraih trofi Liga Champions. Siapapun lawan Bianconeri di final nanti, tentu harus menguras otak lebih dalam agar dapat menemukan bagaimana caranya meruntuhkan barisan pertahanan Juve. Tak hanya di lini belakang. Di lini tengah dan depan, mereka pun tak kalah oke.
Meski di tinggal Paul Pogba di awal musim ini, nyatanya lini tengah Juve justru semakin ciamik. Miralem Pjanic dan Sami Khedira tampil cemerlang dengan ditemani Claudio Marchisio sebagai sosok senior. Belum lagi jika melihat stok gelandang yang tersisa seperti Tomas Rincon, Mario Lemina dan Marko Pjaca. Di kedua sayap, ada Juan Cuadrado dan Mario Mandzukic yang nyatanya fasih memerankan wing target man ala Allegri. Sementara di lini depan, duo Argentina, Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain tampil on fire. Higuain bahkan sudah mencetak 30 gol untuk Juve musim ini. Sementara semakin matangnya Dybala membuat mereka tak perlu lagi belanja besar karena sudah ada sosok Dybala sebagai investasi jangka panjang.
Bangkit dari keterpurukan usai skandal Calciopolli tentu bukanlah hal yang mudah. Namun meski terkenal skandal saat itu, timnas Italia yang keluar sebagai juara dunia didominasi oleh punggawa La Vecchia Signora. Butuh enam tahun bagi Juventus untuk meraih Scudetto pertamanya usai skandal. Setekah Scuetto pertama itulah, Juve lambat laun mulai menunjukka kembali kebangkitannya. Trofi Serie A sudah mereka raih ima musim terakhir. Bisa menjadi enam andai mereka setidaknya tak kalah di akhir pekan ini melawan AS Roma. Di ajang Liga Champions, mereka berhasil menembus final dua musim lalu. Sayang, mereka harus takluk 1-3 dari Barcelona. Impian mereka untuk mengakhiri puasa gelar eropa pun kembali pupus. Namun, mungkin saja hal berbeda akan tersaji musim ini.
Final Cardiff awal Juni nanti tentu akan berbeda dengan final Berlin dua tahun lalu. Juve kini sudah semakin matang secara taktikal. Mereka seakan menjadi oase di tengah keringnya prestasi klub - klub Italia di kancah Eropa. Kualitas mereka sudah terbukti beberapa musim kebelakang. Agaknya sepakbola Eropa sudah mulai bosan dengan dominasi klub Spanyol. Sudah saatnya para pencinta sepakbola khususnya Eropa mendapatkan hal yang baru. Munculnya klub Italia sebagai juara tentu akan menjadi hiburan tersendiri. Dan Juventus adalah representasi dari harapan tersebut. Eropa sudah selayaknya menyambut Juve sebagai kekuatan baru sepakbola mereka.
Tak ada yang lebih baik dari melihat Juve mengakhiri puasa gelarnya di Liga Champions pada musim ini ( untuk orang netral ). Kesempatan mereka terlihat lebih baik di musim ini dibanding dua musim lalu. Kombinasi pemain muda dan senior mampu membawa Juve sejauh ini. Tentu tak terlepas juga dari tangan dingin Max Allegri sebagai juru taktik. Sebuah apresiasi tinggi patut diberikan untuk Juve. Karena merekalah satu - satunya perwakilan sepakbola Italia. Tunggu saja bagaimana musim ini berakhir untuk Juve. Satu hal yang pasti, sepakbola Eropa kembali menemukan kekuatan baru dalam 'sosok' Juventus.


0 komentar:
Post a Comment